Pada Sabtu, 10 Januari 2026, seorang pilot helikopter Chinook yang terlibat dalam perencanaan operasi penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro ditembak di kaki selama misi sebelum fajar di Caracas. Informasi ini disampaikan oleh pejabat AS kepada CBS News dengan syarat anonim karena alasan keamanan nasional.
Operasi berisiko tinggi dimulai dengan sejumlah helikopter Angkatan Darat AS yang membawa pasukan komando Delta Force menuju ibu kota Venezuela, Caracas, dengan gerakan yang diam-diam. Namun, situasi berubah ketika armada udara mendekati kompleks tempat Maduro diduga berada dan ditembaki oleh pos pertahanan Venezuela. Helikopter AS membalas tembakan tersebut dengan tembakan penekan.
Salah satu helikopter MH-47 Chinook yang menurunkan tim penyerbu mengalami tembakan musuh tetapi masih dapat bertahan di udara. Pilot Chinook tersebut, yang juga terlibat dalam perencanaan operasi, mengalami luka tembak di kaki selama baku tembak berlangsung. Saat ini, dua personel militer AS sedang dalam proses pemulihan akibat cedera yang dialami selama invasi Venezuela.
Setelah penggerebekan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke pusat penahanan federal di New York City. Maduro menyatakan dalam sidang pengadilan bahwa dia tidak bersalah dan masih menganggap dirinya sebagai presiden negaranya. Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat terus mengawasi situasi di Venezuela untuk jangka waktu yang lebih lama.












