Pada Minggu, 8 Maret 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan Iran, sebagai langkah untuk meredakan ketegangan di seluruh Teluk. Namun, pernyataan maaf ini tidak hanya menuai kritik dari kelompok garis keras di Iran, tetapi juga diinterpretasikan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai tanda “menyerah” dari Iran.
Dalam pernyataannya, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa ia meminta maaf secara pribadi kepada negara-negara yang terkena dampak tindakan Iran dan mendesak mereka untuk tidak terlibat dalam serangan AS-Israel terhadap Iran. Meskipun menolak tuntutan Trump untuk menyerah tanpa syarat, Pezeshkian menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara telah sepakat untuk menunda serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali jika serangan itu berasal dari wilayah mereka.
Reaksi Trump terhadap permintaan maaf Iran dianggap sebagai tanda penyerahan diri, yang diikuti dengan ancaman bahwa Iran akan mengalami konsekuensi yang parah. Di dalam negeri, pernyataan Pezeshkian telah menimbulkan kehebohan politik, membuat kantornya mengklarifikasi bahwa militer Iran akan merespons dengan tegas terhadap serangan dari pangkalan AS di kawasan tersebut.
Beberapa jam setelahnya, presiden kembali menyampaikan pernyataannya melalui media sosial tanpa menyertakan permintaan maaf yang awalnya memicu kontroversi di kalangan kelompok garis keras, termasuk Garda Revolusi Iran. Kritik atas permintaan maaf juga disuarakan oleh sejumlah tokoh seperti Hamid Rasai dan mantan komandan Garda Revolusi.
Sementara itu, kepala kehakiman Iran, Mohseni-Ejei, menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus dilakukan sebagai respons terhadap penggunaan wilayah beberapa negara regional sebagai basis untuk menyerang Iran. Garda Revolusi Iran bahkan melaporkan bahwa drone mereka telah menyerang pusat tempur udara AS di pangkalan Udara Al Dhafra dekat Abu Dhabi, meskipun laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Otoritas Dubai juga melaporkan insiden di mana seorang pria Asia tewas akibat puing-puing dari pencegatan udara yang jatuh ke kendaraannya di daerah Al Barsha barat. Maskapai Emirates juga mengalami gangguan sementara dalam penerbangan ke dan dari Dubai akibat insiden tersebut.












