Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam sebuah pernyataan pada Jumat, 27 Maret 2026, mengungkapkan bahwa serangan militer ke Iran akan terus meningkat dan diperluas. Katz bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memperingatkan pemerintah Iran untuk menghentikan serangan rudal ke warga sipil di Israel. Meskipun sudah ada peringatan, serangan tetap terus berlanjut, sehingga operasi militer di Iran akan ditingkatkan dan diperluas ke lebih banyak target serta wilayah yang mendukung pengembangan dan penggunaan senjata terhadap warga Israel. Menurut Katz, Iran akan membayar harga yang mahal atas tindakan tersebut.
Serangan militer Israel yang menyasar jantung Teheran melibatkan fasilitas produksi rudal balistik dan berbagai jenis senjata lainnya. Serangan juga diarahkan ke peluncur rudal serta lokasi penyimpanan di wilayah barat Iran. Meskipun belum disahkan secara resmi, asap terlihat membumbung di Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa dua orang tewas akibat serangan di wilayah selatan Beirut, namun tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Dua tentara Israel dilaporkan luka dan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami insiden operasional di Lebanon selatan. Israel telah mengerahkan ribuan pasukan ke wilayah Lebanon dengan tujuan menguasai seluruh area di selatan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Sirene serangan udara kembali berbunyi di Israel saat militer berusaha mencegat rudal yang ditembakkan Iran. Iran terus meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Arab di Teluk, dengan sirene peringatan terdengar di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Kuwait melaporkan kerusakan material di Pelabuhan Shuwaikh di Kuwait City akibat serangan, meskipun tidak ada korban jiwa. Situasi ini terjadi menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan pada Jumat pagi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut lebih dari 600 sekolah rusak atau hancur, serta lebih dari 1.000 siswa dan guru menjadi korban tewas maupun luka selama perang berlangsung.












