Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding Amerika Serikat tengah merencanakan serangan darat meskipun mendukung penyelesaian konflik melalui negosiasi. Pernyataan kontroversial ini muncul setelah kapal perang AS dengan 3.500 personel militer tiba di kawasan Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran semakin memanas setelah serangkaian serangan udara dan balasan dari Iran terhadap negara-negara Teluk serta jalur pelayaran Selat Hormuz. Ketegangan yang terjadi telah memengaruhi pasar energi global dan memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dunia.
Kritik dari Mohammad Bagher Ghalibaf terhadap AS disampaikan di tengah upaya negosiasi dan percakapan diplomatik yang terjadi antara berbagai negara, termasuk Pakistan. Presiden AS Donald Trump, meskipun mengklaim bahwa terdapat kontak diplomatik dengan Iran, Teheran membantah klaim tersebut. Pakistan berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran dalam pertemuan para menteri luar negeri dari beberapa negara kawasan di Islamabad. Mereka membahas upaya mengakhiri perang secara dini dan permanen serta mendukung pembicaraan damai.
Meski diplomasi terus dilakukan, AS juga melaporkan peningkatan kehadiran militer di kawasan dengan kedatangan kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa 3.500 Marinir dan pelaut. Pentagon disebut telah menyiapkan rencana operasi darat di sekitar Selat Hormuz, meskipun keputusan akhir masih menunggu persetujuan Presiden Trump. Iran sendiri telah menyatakan menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap sebagai musuh, yang sebelumnya menjadi jalur utama perdagangan minyak dan gas alam cair global.












