Cara Carlos Sainz Bangkit dari Masa Tersulit dalam Karier F1

Menjelang Grand Prix Azerbaijan 2026, Carlos Sainz datang ke Baku dengan perasaan yang bertolak belakang. Kota itu mengingatkannya pada podium pertama bersama Williams setahun lalu, tetapi musim ini justru diwarnai hasil yang jauh dari target. Sainz menilai dirinya sedang mengemudi pada level tinggi, sementara mobil FW48 belum mampu memberinya peluang untuk meraih hasil yang sepadan.

Pembalap Spanyol berusia 32 tahun itu mengatakan Baku memiliki tempat khusus dalam perjalanan kariernya. “Ini adalah tempat yang membawa kembali banyak kenangan indah dari tahun lalu, tentang podium pertama saya bersama Williams. Itu mungkin salah satu momen terbaik dalam karier saya, jadi Baku kini menjadi tempat penting bagi saya,” kata Sainz.

Performa pribadi dan masalah mobil

Sainz menyebut musim 2026 sebagai periode yang membingungkan. Dari sisi performa individu, ia merasa berada dekat dengan puncak kariernya setelah 12 tahun berkiprah di Formula 1. Namun, berbagai masalah pada mobil membuat Williams kesulitan memenuhi sasaran yang telah ditetapkan.

“Saya merasa sedang menjalani tahun yang bagus dari sisi performa. Saya berusia 32 tahun dan merasa dekat dengan puncak karier. Saya merasa mengemudi dengan cukup baik tahun ini, tetapi pada saat yang sama musim ini sangat membuat frustrasi karena banyak masalah pada mobil yang menghalangi kami mendapatkan hasil bagus,” ujarnya.

Ia bahkan khawatir musim ini berubah menjadi tahun yang terbuang. Meski begitu, Sainz berharap situasi tersebut hanya menjadi fase sementara dan Williams dapat berada dalam posisi yang lebih baik pada musim berikutnya.

Sainz bergabung dengan Williams pada 2025 setelah sebelumnya memperkuat Toro Rosso, Renault, McLaren, dan Ferrari. Menurutnya, pengalaman dari tim-tim tersebut menjadi kontribusi utama yang ia bawa. Ia juga berusaha memberi Williams gambaran mengenai standar kerja tim papan atas, terutama setelah merasakan langsung lingkungan Ferrari.

Dalam proses membangun kembali Williams, ia menilai keberadaan James Vowles, yang pernah bekerja di Mercedes, serta Alex Albon, yang memiliki pengalaman di lingkungan Red Bull, menjadi modal penting. “Ada tiga atau empat figur penting di dalam tim yang memahami cara kerja tim papan atas. Kami berusaha membawa Williams kembali ke level tersebut pada masa depan,” kata Sainz.

Alasan tetap bertahan di Williams

Sainz telah memutuskan untuk melanjutkan masa depannya bersama Williams. Keputusan itu, kata dia, terutama didasari kepercayaan terhadap proyek, orang-orang di dalam tim, serta visi jangka menengah dan panjang yang dibangun Williams.

Musim ini memang mengecewakan dan memperlihatkan bahwa tim tersebut masih lebih jauh dari perkiraan untuk mencapai target. Kondisinya berbeda dengan 2025, ketika hasil yang diraih justru melampaui harapan, termasuk tiga podium pada penghujung musim.

Alasan kedua adalah rasa diterima yang ia rasakan sejak hari pertama. Sainz mengatakan orang-orang di Williams benar-benar mendengarkan masukan darinya. Menurutnya, pembalap dapat tampil maksimal ketika berada di lingkungan yang membuatnya merasa didengar, sebagaimana yang pernah ia rasakan saat membalap untuk McLaren.

Tekanan nama besar dan masa sulit di Ferrari

Sainz mengakui dirinya tetap sulit melupakan hari buruk di lintasan. Namun, pengalaman membantunya memahami bahwa satu balapan tidak menentukan nilai seorang pembalap. Ia menyebut masa paling berat dalam kariernya terjadi setelah mengetahui bahwa dirinya harus meninggalkan Ferrari. Sainz membutuhkan dua atau tiga bulan untuk kembali menemukan arah, sebelum kemudian meraih kemenangan di Australia, sejumlah podium, dan menjalani musim 2024 yang menurutnya sangat kuat.

Kenangan terbaiknya mencakup podium-podium bersama McLaren, empat kemenangan bersama Ferrari, serta podium Williams di Baku. Ia juga mengingat tekanan besar saat masih berusia 11 hingga 14 tahun di dunia karting karena nama besar ayahnya, Carlos Sainz senior. Meski merasa diperlakukan berbeda, Sainz mengatakan dirinya tidak menyesali pilihan hidup tersebut.

“Saya akan mengatakan kepada anak berusia 15 atau 16 tahun itu bahwa semua pengorbanan tersebut sepadan,” ujarnya. Kepada dirinya yang dahulu masih meragukan peluang menembus Formula 1 dan memenangi balapan, Sainz akan menyampaikan satu hal: “Jangan khawatir. Dia akan berhasil, dan mungkin memiliki karier yang lebih baik daripada yang pernah dia bayangkan.”

Source link