Ben Sulayem kembali terpilih secara kontroversial dalam pemilihan presiden FIA yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, menjelang seremoni penganugerahan juara 2025. Dalam pemilihan tersebut, ia maju tanpa ada lawan yang bersaing dengannya. Presiden asal Uni Emirat Arab tersebut akan menjabat untuk periode kedua selama empat tahun setelah sebelumnya terpilih pada tahun 2021 dengan suara sebesar 61,62 persen, mengalahkan wakil presiden bidang olahraga, Graham Stoker, yang memperoleh suara sebesar 36,62 persen. Ben Sulayem mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua anggota FIA yang telah memberikan dukungannya dalam pemilihan ini. Ia berkomitmen untuk memberikan yang terbaik untuk FIA, motorsport, mobilitas, dan Klub Anggota di seluruh dunia. Pada awalnya, Ben Sulayem memiliki beberapa penantang seperti Tim Mayer, Laura Villars, dan Virginie Philippot. Namun, tidak satupun dari mereka bisa mencalonkan diri karena aturan yang mengharuskan calon membentuk tim dengan wakil presiden dari enam wilayah global FIA.
Proses pemilihan tersebut mengundang kontroversi dari Mayer yang menyebutnya sebagai “ilusi demokrasi”. Namun, Fabiana Ecclestone, satu-satunya wakil presiden yang memenuhi syarat dari Amerika Selatan, memberikan dukungannya kepada Ben Sulayem. Sementara Laura Villars menggugat FIA atas proses yang dianggapnya tidak demokratis. Meskipun begitu, pengadilan Paris memutuskan bahwa pengadilan penuh diperlukan, yang akan berlangsung pada 16 Februari. Kekalahan pemilihan presiden juga menjadi kemungkinan hasil akhir dari perkembangan tersebut. Meskipun demikian, FIA tetap mengumumkan kembali terpilihnya Ben Sulayem sebagai presiden dengan menyatakan bahwa proses tersebut sesuai dengan statuta FIA dan mencerminkan dasar demokratis federasi tersebut. Sejarah presiden FIA sebelumnya juga dihadirkan dalam artikel ini untuk memberikan konteks yang lebih luas terkait kepemimpinan di FIA.












