Terkait penentuan awal bulan Hijriah sebelum Ramadhan 2026, perbedaan pandangan muncul di antara masyarakat. Diskusi kali ini berfokus pada penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai referensi awal berpuasa. Nahdlatul Ulama (NU) tetap mendukung metode rukyatul hilal, dengan argumen bahwa kehati-hatian dalam menetapkan ibadah dalam konteks syariat adalah hal yang penting. Pernyataan ini disampaikan oleh Pengurus Lembaga Falakiyah PBNU, Ahmad Izzuddin dalam sebuah video di NU Online. Ia menegaskan bahwa pendekatan global seharusnya tidak merusak substansi ibadah umat Islam.
Dalam kritiknya terhadap penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah yang merujuk pada KHGT, Ahmad Izzuddin menyoroti data mengenai hilal di Alaska, Amerika Serikat. Menurutnya, agak sulit untuk menerima penetapan berdasarkan data tersebut di Indonesia. Selain itu, ia menjelaskan bahwa ketentuan ibadah bergantung pada lokasi geografis dan waktu setempat. NU masih mempertimbangkan visibilitas hilal dan perbedaan waktu. Alaska dianggap tidak relevan sebagai referensi karena selisih waktunya yang jauh dengan Indonesia. Penekanannya adalah pada metode rukyatul hilal sebagai dasar penetapan awal Ramadhan.
Meskipun demikian, Ahmad Izzuddin mengajak semua untuk bijaksana dalam menyikapi perbedaan ini. Pentingnya menjaga persatuan umat Muslim di tengah beragam pendekatan dalam menentukan awal bulan Hijriah juga disorot. Semua ini menunjukkan betapa pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai syariat dalam konteks keagamaan.












