Penanganan infrastruktur sungai di tiga provinsi terdampak di Sumatera menjadi prioritas utama dalam fase pemulihan jangka panjang, menurut Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana. Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menekankan pentingnya normalisasi sungai dalam mendukung pertanian dan perikanan yang menjadi sektor ekonomi utama masyarakat. Menurut data Satgas PRR, sungai di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mayoritas mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
Data dari Satgas PRR menunjukkan bahwa wilayah terdampak memiliki puluhan sungai dengan kondisi yang berbeda-beda, mulai dari sedimentasi berat, kerusakan tanggul, hingga perubahan alur sungai. Di Provinsi Aceh, terdapat 55 sungai terdampak yang memerlukan penanganan bertahap. Sementara di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, masing-masing terdapat 48 dan 43 sungai terdampak yang membutuhkan perhatian serius.
Penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu tanggap darurat untuk mengantisipasi dampak lanjutan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memastikan perbaikan permanen. Wilayah terdampak yang tersebar menjadi tantangan tersendiri dalam pemulihan sungai, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Meskipun demikian, upaya penanganan terus dilakukan secara paralel dengan pemulihan sektor lainnya, seperti perbaikan jalan nasional dan distribusi logistik untuk mempercepat perbaikan sungai di berbagai wilayah terdampak.












