Pada Selasa sore, 6 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membanggakan kekuatan militer AS dalam operasi di Venezuela, menyebutnya sebagai “pencapaian militer yang luar biasa”. Dalam acara di John F. Kennedy Center, Washington DC, Trump menyoroti operasi militer yang kompleks dan sukses dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores. Operasi bernama ‘Operation Absolute Resolve’ dilaksanakan pada Sabtu, 3 Januari 2026 dan disambut meriah oleh para pendukung Partai Republik.
Trump menjelaskan bahwa ada banyak korban tewas dalam serbuan pasukan elit AS ke kompleks tempat Maduro dan Flores berada di Caracas. Sebagian besar korban dilaporkan sebagai warga Kuba, dengan 32 warga Kuba tewas dan jumlah korban total termasuk perempuan sipil mencapai 57. Meskipun terlibat dalam operasi yang melibatkan 152 pesawat, Trump menegaskan bahwa tidak ada warga AS yang tewas dalam kejadian tersebut.
Dalam penangkapan Maduro, pasukan khusus Delta Force dan CIA berperan penting. Maduro ancaman luka-luka saat penangkapan dilakukan, dengan luka-luka yang terlihat saat Cilia Flores hadir di pengadilan federal pada hari Senin. Flores terlihat mengenakan perban di dekat mata dan dahi, dengan pengacaranya menyebutkan bahwa luka tersebut diderita selama proses penangkapan. Operasi penangkapan tersebut melibatkan pelemparan granat kejut ke lokasi persembunyian pasangan tersebut, yang menyebabkan keduanya mengalami luka dan berdarah.
Presiden Trump menekankan kekuatan militer AS sebagai yang paling kuat, mematikan, canggih, dan menakutkan di dunia. Trump memuji keberhasilan operasi di Venezuela sebagai bukti bahwa AS tidak memiliki lawan dalam hal kekuatan militer, dengan pernyataan-pernyataannya disiarkan oleh CBS News. Menurut Trump, pemimpin Venezuela mencoba mencapai tempat yang dianggap aman namun terbukti tidak aman, sehingga berhasil ditangkap oleh pasukan AS dalam sebuah operasi yang kompleks dan sukses.












