Akademisi Soroti Hubungan Politik dan Militer

Topik reformasi TNI kerap dikaitkan dengan kekhawatiran masyarakat akan campur tangan militer di kehidupan sipil. Namun, di balik isu tersebut, terdapat tantangan struktural dan model pengelolaan karier di tubuh TNI yang belum banyak didiskusikan secara mendalam.

Baru-baru ini, Magister Hubungan Internasional Universitas Indonesia menyelenggarakan sebuah seminar bertema “Pola Karir dan Profesionalisme Militer” pada awal Maret 2026. Dalam forum tersebut, para ahli seperti Aditya Batara Gunawan dari Universitas Bakrie, Beni Sukadis dari Lesperssi, serta Yudha Kurniawan dari Laboratorium Politik Universitas Bakrie memaparkan analisis kritis tentang persoalan profesionalitas militer dari berbagai sudut pandang.

Batas antara ranah militer dan sipil yang idealnya tegas, dalam praktiknya justru kerap tidak jelas. Teori kendali sipil menekankan pentingnya pemisahan antara tugas militer (seperti pertahanan eksternal) dan kewenangan sipil (misalnya keamanan internal). Namun, fakta yang terjadi, menurut para narasumber, sering ditemukan wilayah tumpang-tindih yang dapat menimbulkan masalah baru bagi profesionalitas TNI bila tidak ada pengelolaan yang cermat.

Salah satu penyebab kerancuan muncul dari sistem promosi perwira di TNI sendiri. Meski seharusnya didasarkan atas prestasi dan integritas, faktor politik kerap mengambil peran. Aditya Batara Gunawan mengungkapkan betapa kepentingan politis, khususnya dari figur-figur populis, acap kali melekat dalam keputusan promosi dan penempatan jabatan strategis. Dijelaskan pula betapa kedekatan personal dengan penguasa kerap menjadi pertimbangan tersendiri, sehingga nilai-nilai meritokrasi mudah tergeser oleh kepentingan lain di luar profesionalitas.

Demikian pula, dalam urusan penunjukan Panglima TNI yang mensyaratkan persetujuan DPR, menurut Yudha Kurniawan, kendali sipil semacam ini juga berpotensi membuka pintu intervensi politik. Ia menarik perbandingan dengan negara seperti Inggris, di mana sistem penunjukan pemimpin militer berjalan tanpa campur tangan legislatif. Fakta ini menunjukkan bahwa pengaturan hubungan sipil-militer sangat bergantung pada tradisi dan norma demokrasi di masing-masing negara.

Di sisi lain, Beni Sukadis mengingatkan bahwa profesionalisme TNI tidak hanya dapat diukur dari aspek legal formal, tapi juga dari bagaimana meritokrasi benar-benar dijalankan dalam proses kenaikan pangkat dan pengisian pos jabatan. Kerap kali, promosi lebih menonjolkan faktor kedekatan pribadi, membayangi penilaian terhadap prestasi dan kompetensi.

Yudha Kurniawan memperjelas situasi dengan menyebut adanya masalah surplus perwira di dalam organisasi TNI, akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan jumlah personel serta struktur jabatan yang tersedia. Situasi ini dipicu oleh kapasitas pendidikan militer yang terbatas, hambatan pada jalur promosi, dan keterbatasan anggaran serta fasilitas pelatihan. Kelebihan personel tersebut mendorong organisasi militer untuk memperluas peran ke sektor-sektor nonmiliter atau memperbesar struktur komando, justru agar tidak terjadi penumpukan perwira tanpa penugasan.

Dalam kesempatan yang sama, Beni juga mengoreksi pandangan umum mengenai keharusan rotasi antar matra dalam pergantian pimpinan TNI. Ia mencontohkan transisi dari Jenderal Moeldoko ke Jenderal Gatot Nurmantyo, keduanya dari matra darat, sebagai bukti bahwa penentuan Panglima lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika politik dan preferensi presiden daripada sekadar rotasi formal.

Seminar ini menjadi semakin penting bila dikaitkan dengan kekhawatiran melemahnya kualitas demokrasi di Indonesia. Persoalan hubungan sipil-militer tidak sekadar upaya menjaga militer dari godaan politik praktis, melainkan juga menguji kemampuan sipil untuk menahan diri tidak melibatkan militer dalam perebutan kepentingan politik.

Pada akhirnya, penyelesaian berbagai masalah internal TNI perlu berpijak pada penguatan profesionalisme dan penghormatan terhadap otonomi organisasi. Penataan sistem promosi dan karier selayaknya terbebas dari intervensi politik berlebihan maupun dominasi sipil yang mengebiri independensi militer. Sebagaimana di negara-negara demokrasi mapan, penghormatan pada struktur dan sistem merit di tubuh militer merupakan pilar fundamental agar hubungan sipil-militer tetap sehat dan demokrasi terjaga.

Sumber: Motif Perluasan Peran TNI Ke Sektor Sipil, Struktur Organisasi Dan Karier Perwira Disorot
Sumber: Motif Di Balik Perluasan Peran TNI Ke Sektor Sipil Dan Pembengkakan Struktur Organisasisi