Pada Rabu, 22 April 2026, Kepala Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi menegaskan bahwa Iran tidak akan ragu untuk menyerang musuh yang melampaui batas dan melakukan agresi terhadap wilayahnya. “Hari ini kami datang kepada kalian untuk menyatakan komitmen kami. Jika setelah gencatan senjata musuh kembali melampaui batas dan melakukan agresi terhadap tanah Iran, maka kali ini target kami adalah kemanapun kalian arahkan,” kata Mousavi.
Pernyataan tersebut juga merupakan peringatan untuk negara-negara di kawasan Timur Tengah agar tidak bekerja sama dengan musuh, terutama Amerika Serikat. Iran bahkan mengancam bahwa jika negara-negara Arab membantu AS, fasilitas produksi minyak mereka akan menjadi sasaran. Amerika Serikat memiliki pangkalan udara dan militer di sejumlah negara Arab.
Mousavi juga menegaskan bahwa negara-negara tetangga di Selatan harus memahami konsekuensi jika wilayah dan sumber daya mereka digunakan oleh Amerika untuk menyerang Iran. Hal ini dapat mengancam produksi minyak di kawasan Asia Barat. Selain itu, ia juga mengucapkan rasa terima kasih kepada rakyat Iran yang terus mendukung angkatan bersenjata selama lebih dari 50 hari.
Gencatan senjata yang sedang berlangsung dijadwalkan akan berakhir pada Selasa malam, di tengah kebuntuan terkait perundingan berikutnya. Presiden AS Donald Trump secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tersebut, namun Iran belum memberikan tanggapan. Iran sendiri telah memperingatkan bahwa blokade laut ilegal harus segera dicabut oleh Amerika Serikat untuk menghindari eskalasi konflik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, dengan alasan bahwa militer AS akan menunda serangan yang direncanakan. Demikianlah situasi terkini yang terjadi di wilayah Timur Tengah terkait ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.












