Berita  

Kisah Tiga Kiai Besar Di Balik Kepemimpinan Cak Imin

Suluh Nahdliyin Gelar Diskusi Buku Gus Muhaimin Iskandar

Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, Suluh Nahdliyin menggelar diskusi buku Gus Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Meneladani Kepemimpinan 3 Kiai: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri karya Dr. Wasid, S.Fil.I. Diskusi ini berlangsung di Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Narasumber Diskusi

Dalam diskusi yang dihadiri oleh sejumlah narasumber, terdapat Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yaitu KH Azam Khairuman Najib (Gus Heru), Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, KH Mustain Syafi’i (Kiai Tain), serta pengamat politik Hendri Satrio.

Perspektif Gus Heru

Gus Heru menyatakan bahwa buku tersebut merangkum sosok Gus Muhaimin Iskandar dari berbagai perspektif, terutama dengan melihat keteladanan tiga tokoh besar yang menjadi panutan kepemimpinannya. “Lewat buku ini, kita mencoba membaca Cak Imin yang orangnya juga santai dari berbagai perspektif, dari berbagai tokoh yang ada di belakangnya yang menjadi panutan beliau,” ujar Gus Heru.

Menurut Gus Heru, latar belakang genealogis Gus Muhaimin tak terlepas dari pesantren besar di Jombang, terutama Tambakberas, Tebuireng, dan Denanyar. Oleh karena itu, Cak Imin dianggap dapat diidentifikasi sebagai representasi dari ketiga lingkungan pesantren tersebut. “Cak Imin ini bisa dikatakan perwakilan Tebuireng, bisa dikatakan perwakilan Tambakberas, bisa dikatakan perwakilan dari Denanyar. Jadi wong sakti, kesaktian—terlalu sakti,” ungkapnya dalam suasana diskusi yang santai.

Gus Heru menilai bahwa buku tersebut memiliki pendekatan yang berbeda karena mengulas ketiga tokoh pendiri NU dari perspektif politik kepemimpinan. “Baru buku ini yang mengupas dari sisi politik para masyayikh, para muassis. Kalau dari sisi pendidikan sudah berkali-kali, banyak sekali,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa buku tersebut tetap terbuka untuk dikritisi karena tidak dimaksudkan sebagai karya yang sempurna. “Jenengan semua boleh setuju dengan buku ini dan boleh juga tidak setuju. Karena buku ini pasti ada kekurangan, belum tentu sempurna, dan tidak akan sempurna,” tegas Gus Heru.

Menurut Gus Heru, tantangan utama dari buku tersebut adalah mencoba menggali kepemimpinan Gus Muhaimin melalui tiga figur yang memiliki jasa besar dan pengaruh luas dalam sejarah NU.

Source link