Program vaksinasi unggas yang diterapkan Indonesia sejak wabah flu burung pada 2003 dinilai berperan dalam menjaga kesehatan ternak sekaligus mempertahankan produktivitas peternakan. Pemerintah menilai pendekatan tersebut tetap relevan karena penyakit pada hewan ternak dapat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan dan perekonomian.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si., mengatakan vaksinasi dipilih dengan mempertimbangkan kondisi peternakan unggas di Indonesia. Menurut dia, kebijakan itu memungkinkan pemerintah melindungi peternakan, kawasan peternakan, hingga wilayah kepulauan dari ancaman flu burung atau avian influenza (AI).
“Flu burung mewabah di Indonesia pada tahun 2003. Dan sejak terjadinya wabah flu burung, kebijakan pemerintah Indonesia kita menerapkan program vaksinasi,” kata Agung di Bogor, Kamis, 24 September 2026.
Ia mengakui bahwa ketika Indonesia mulai menjalankan program tersebut, banyak negara menentang vaksinasi AI. Namun, pemerintah tetap menganggap vaksinasi sebagai pilihan terbaik yang sesuai dengan situasi peternakan di dalam negeri.
Kasus terkendali dan produksi tetap berjalan
Agung menyebut hasil kebijakan itu terlihat dari kondisi flu burung di Indonesia setelah wabah 2003. Ia mengatakan Indonesia tidak lagi mengalami wabah besar, sementara kasus yang muncul disebut berada dalam jumlah kecil. Produksi unggas pun, menurut dia, tetap konsisten dan bahkan meningkat.
“Dan terbukti sampai saat ini, sejak kasus flu burung itu, kita tidak pernah mengalami wabah dan juga produksi kita tetap konsisten. Tidak ada kasus, ya, ada kasus pun kecil. Tapi secara keseluruhan, dengan vaksinasi, kita bisa menjaga kesehatan unggas kita dan produksinya semakin meningkat lagi,” ujarnya.
Pengalaman tersebut, lanjut Agung, juga menjadi pembelajaran bagi negara lain. Sejumlah negara yang sebelumnya tidak menerapkan vaksinasi AI kini mulai menggunakan pendekatan serupa untuk menjaga kesehatan hewan ternak. Indonesia disebut menjadi salah satu contoh negara yang menjalankan program vaksinasi AI pada unggas.
“Banyak negara yang tadinya melarang vaksinasi AI, sekarang malah mereka juga sangat melakukan vaksinasi AI untuk menjaga agar kesehatan hewannya,” kata Agung.
Vaksin unggas mulai diekspor ke Afrika
Pengendalian penyakit unggas juga berkaitan dengan pengembangan serta distribusi vaksin hewan. Dalam perkembangan terbaru, industri kesehatan hewan Indonesia mulai memperluas distribusi produknya ke sejumlah negara di Afrika.
Vaksindo mencatat ekspor perdana vaksin unggas ke Zambia, Kongo, Uganda, dan Malawi. Nilai ekspor tersebut mencapai US$106.875 atau sekitar Rp1,9 miliar.
Ekspor itu menjadi bagian dari perkembangan distribusi produk vaksin unggas Indonesia setelah pemerintah mempertahankan vaksinasi sebagai salah satu strategi pengendalian flu burung. Kebijakan yang diberlakukan sejak wabah 2003 tersebut tetap diarahkan untuk menjaga kesehatan ternak dan keberlangsungan produksi peternakan.












