Penentuan gelar Kejuaraan Reli Dunia (WRC) 2026 akan berlangsung hingga seri terakhir di Sardinia, Italia. Tiga pembalap Toyota—Elfyn Evans, Sami Pajari, dan Oliver Solberg—masih memiliki peluang merebut gelar dunia pertama mereka dalam reli 17 etape tersebut.
Evans datang sebagai pemimpin klasemen dengan keunggulan 17 poin atas Pajari. Solberg berada empat poin di belakang Pajari, atau terpaut 21 poin dari Evans. Dengan 35 poin yang masih diperebutkan, Evans harus mengumpulkan sedikitnya 19 poin untuk memastikan gelar tanpa bergantung pada hasil kedua rivalnya.
Evans diuntungkan klasemen, tetapi dirugikan posisi start
Keunggulan angka belum membuat Evans merasa aman. Pembalap asal Wales itu akan membuka jalan pada Jumat, sementara Pajari dan Solberg start di posisi kedua dan ketiga. Kondisi tersebut berpotensi merugikan Evans karena permukaan lintasan gravel Sardinia dikenal kasar, longgar, dan sulit diprediksi.
Perbaikan jalan yang baru dilakukan, ditambah tidak adanya hujan, membuat lapisan atas lintasan sangat berpasir. Evans memperkirakan efek “membersihkan jalan” akan kuat dan berharap dapat mengurangi kerugian dengan berkendara secara bersih.
“Saya pikir ini akan menjadi tugas berat dengan posisi jalan untuk tetap dekat dengan para pembalap di belakang. Anda tidak pernah tahu bagaimana semuanya akan berjalan di sini, jadi setidaknya pada awalnya kami harus melakukan pekerjaan sebaik mungkin,” kata Evans.
Ia menambahkan, strategi dapat berubah mengikuti situasi sepanjang reli. “Untuk bagian pertama reli, penting untuk berkendara dengan baik dan bersih, lalu melihat apa yang terjadi,” ujarnya.
Pajari mengejar peluang yang mungkin tak datang dua kali
Pajari, yang baru menjalani musim penuh kedua di level tertinggi WRC, justru menjadi pembalap dengan kemenangan terbanyak di antara tiga kandidat gelar tahun ini. Pembalap Finlandia berusia 24 tahun itu menang di Estonia, Finlandia, dan Paraguay, serta telah mengoleksi delapan podium.
Dengan defisit 17 poin, Pajari menyadari tekanan lebih besar berada di pihak Evans. Namun, ia menolak menyia-nyiakan kesempatan yang muncul di Sardinia.
“Kami hanya perlu melakukan yang terbaik, lalu pada Minggu kami akan mengetahui siapa yang memiliki poin terbanyak. Dalam satu hal, Elfyn memiliki lebih banyak hal untuk dipertaruhkan,” kata Pajari. Ia juga mengakui peluang tersebut mungkin merupakan kesempatan terbaiknya untuk menjadi juara.
“Mungkin ini adalah peluang terbaik yang pernah saya dapatkan. Jadi saya harus berusaha memanfaatkannya,” ujarnya.
Solberg memiliki misi yang lebih sederhana, tetapi paling sulit: menang dan meraih seluruh 35 poin. Pembalap Swedia itu baru masuk persaingan gelar setelah memenangi Reli Chile.
“Untuk gelar, saya tidak akan kehilangan apa pun. Saya harus memenangi reli dan mengambil 35 poin untuk memberi diri saya peluang,” kata Solberg. Ia menyebut debu yang menggantung, potensi ban bocor, dan karakter lintasan Sardinia sebagai ancaman utama.
Peluang Solberg juga terdampak keputusan WRC memangkas musim menjadi 14 reli setelah pembatalan Reli Arab Saudi tidak digantikan. Ia mengaku sempat marah dan kecewa, tetapi akhirnya menerima keputusan tersebut karena alasan keselamatan.
Debu dan kamera helm menjadi perhatian
Para pembalap meminta jarak start diperpanjang karena debu yang menggantung dapat mengurangi jarak pandang. Pada shakedown, jarak dua menit dinilai belum cukup. Thierry Neuville mengatakan kondisi menjadi sangat sulit, terutama di bagian lintasan yang dikelilingi pepohonan dan minim angin.
Juara dunia sembilan kali, Sebastien Ogier, berharap jarak empat menit diterapkan. Menurutnya, jadwal reli memungkinkan perubahan itu, termasuk karena adanya regroup pada tengah hari.
Sardinia juga menjadi ajang uji coba siaran langsung dengan kamera terintegrasi pada helm pembalap. Perangkat buatan Bell Racing Helmets tersebut telah disetujui FIA dan menggunakan teknologi yang sama dengan Formula 1. Jon Armstrong dari M-Sport-Ford akan menggunakannya sepanjang akhir pekan.












