Franco Colapinto meminta publik melihat perundungan di media sosial sebagai persoalan yang lebih luas daripada serangan terhadap Lando Norris setelah insiden Grand Prix Azerbaijan. Pembalap Alpine itu mengatakan dirinya juga menerima banyak pelecehan, tetapi pengalaman tersebut jarang dibicarakan.
“Tidak ada yang pernah membicarakan” banyaknya serangan yang ia terima, ujar Colapinto pada Kamis di Sepang. Ia menilai hujatan tidak hanya datang dari penggemar asal Argentina, meski fanbase di negaranya memang dikenal sangat mendukungnya.
Insiden Baku memicu serangan terhadap Norris
Insiden yang memicu polemik terjadi pada restart setelah safety car di Baku, akhir pekan lalu. Colapinto terlambat mengerem dan mobilnya mengalami lock-up saat memasuki Tikungan 1. Mobilnya kemudian bertabrakan dengan rekan setimnya di Alpine, Pierre Gasly, serta pembalap McLaren, Lando Norris.
Norris yang masih berada dalam suasana panas setelah kecelakaan itu menyerukan agar pembalap mendapat larangan tampil dalam balapan ketika kesalahan mereka menyebabkan tabrakan beruntun. Pernyataan tersebut disampaikan sebelum ia menyaksikan tayangan ulang insiden.
Ucapan Norris kemudian memicu serangan besar di media sosial. Sebagian besar hujatan disebut datang dari penggemar Colapinto di Argentina. Norris pada akhirnya meminta maaf atas komentarnya, tetapi ia juga menerima banyak kebencian setelah pernyataan itu beredar.
Alpine merespons dengan mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan tersebut. Sejak Colapinto bergabung dengan tim Prancis itu pada awal 2025, pernyataan serupa telah dikeluarkan Alpine sebanyak empat kali.
Colapinto: Pelecehan datang dari banyak fanbase
Colapinto mengatakan penggemar Argentina memang kerap terlibat dalam serangan daring, tetapi mereka bukan satu-satunya sumber masalah. Menurut pembalap berusia 23 tahun itu, pelecehan juga datang dari berbagai negara dan kelompok pendukung pembalap lain.
“Saya menerima banyak sekali (pelecehan). Tidak ada yang pernah membicarakannya,” kata Colapinto. Ia mengaku tidak terlalu sering membuka media sosial sehingga dampaknya terhadap dirinya bisa lebih terbatas. Namun, ia menilai situasi tersebut memengaruhi banyak pembalap dan atlet.
“Terkadang, mereka tidak menyadari apa yang bisa ditimbulkan hanya dengan menulis melalui papan ketik. Kami semua manusia dan sangat sensitif,” ujarnya.
Colapinto mengatakan dirinya telah membicarakan masalah kebencian di media sosial sejak tahun lalu. Ia berharap kondisi tersebut membaik, meski menurutnya para pembalap kesulitan mengubah situasi sendirian.
Ia juga mengajak para pembalap untuk bekerja sama dan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di depan publik. Colapinto memahami bahwa komentar keras bisa muncul saat emosi memuncak, tetapi para pembalap tetap perlu menyadari konsekuensinya.
“Saya sedikit terkejut, tetapi kemudian tentu saja dia meminta maaf. Sayangnya, dia juga menerima banyak kebencian. Ini situasi yang sulit ketika berhadapan dengan dunia luar,” kata Colapinto mengenai Norris.
Colapinto akan menjalani akhir pekan balapan berikutnya dengan dua penalti terpisah. Ia menerima penalti mundur lima posisi akibat kesalahan di Baku dan penalti mundur 10 posisi karena pergantian mesin. Dalam sumber ini, Grand Prix Bahrain disebut berlangsung di Malaysia pada akhir pekan tersebut.












