Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang mengakibatkan kematian Ayatollah Ali Khamenei. Kelompok militer Hizbullah, sebagai respons atas serangan tersebut, dilaporkan melakukan serangan ke wilayah utara Israel. Pimpinan Hizbullah, Naim Kassem, menolak rencana pemerintah untuk melucuti senjata para pejuangnya dan siap menghadapi agresi dari Amerika Serikat dan Israel. Dalam pidatonya, Naim Kassem menegaskan kesediaan Hizbullah untuk melawan sampai pengorbanan terakhir sebagai pertahanan eksistensial.
Lebanon merespons serangan roket Hizbullah ke Israel sebagai tindakan ilegal dan menekan tentara Lebanon untuk bertindak terhadap kelompok-kelompok bersenjata di luar kendali negara. Militer Lebanon, yang mendapat dukungan dana dari AS dan beberapa negara lain, dikerahkan di wilayah selatan Lebanon untuk menghadapi Hizbullah. Namun, belum jelas apakah tentara Lebanon mampu atau bersedia melucuti Hizbullah secara langsung. Serangan-serangan yang terus berlangsung telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kedua belah pihak, serta memaksa ribuan orang untuk meninggalkan rumah mereka.
Di Aramoun dan Saadiyat selatan Beirut, di luar wilayah tradisional pengaruh Hizbullah, serangan Israel juga telah menewaskan dan melukai sejumlah warga. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa angka korban belum final dan masih dalam perhitungan awal. Serangan terus berlanjut, menargetkan pinggiran selatan Beirut, mengakibatkan kerusakan yang berdampak pada masyarakat setempat. Semua peristiwa ini semakin memanas dan memperkeruh situasi di Timur Tengah.












