Bintang VR46: Sprint Qualifying MotoGP Ancam Kesehatan Rider

Fabio Di Giannantonio mengingatkan MotoGP agar tidak mengorbankan kesehatan pembalap demi menambah tontonan dalam balapan. Pembalap VR46 Racing Team itu menyoroti rencana penambahan sesi kualifikasi khusus untuk sprint race yang diperkirakan mulai diterapkan pada musim 2027.

Rencana tersebut tengah dibahas para pemangku kepentingan MotoGP. Saat ini, satu sesi kualifikasi pada Sabtu pagi setelah sesi latihan terakhir menentukan posisi start untuk sprint race dan balapan utama. Jika disetujui, format itu akan diubah sehingga sprint memiliki sesi kualifikasi tersendiri, seperti yang berlaku di Formula 1 pada akhir pekan dengan format sprint.

Usulan tersebut disebut mendapat sambutan cukup positif dari tim dan para pabrikan, serta diperkirakan akan diratifikasi untuk musim 2027. Namun, Di Giannantonio menilai tambahan agenda balapan dan kualifikasi akan semakin membebani pembalap yang sudah menghadapi kalender panjang, yakni 22 seri dengan total 44 balapan.

Risiko cedera menjadi perhatian

“Saya sangat menghormati apa yang sedang coba dilakukan MotoGP untuk memberikan sebanyak mungkin kegembiraan kepada penonton. Sayangnya, terkadang hal itu sedikit bertentangan dengan kesehatan pembalap,” kata Di Giannantonio.

Menurut pembalap Italia yang telah dua kali memenangi grand prix tersebut, karakter motor MotoGP membuat setiap kecelakaan memiliki risiko serius. “Pada akhirnya, kami mengendarai kendaraan dengan dua roda. Ketika jatuh, itu bukan sekadar benturan kecil dengan dinding; bisa terjadi cedera, bahkan sesuatu yang besar,” ujarnya.

Ia juga mengaku semakin sulit menjaga kondisi fisik sepanjang musim, terutama karena pembalap dituntut tampil maksimal dalam setiap rangkaian sesi.

“Semakin sulit untuk mempertahankan kondisi sepanjang tahun demi momen-momen ketika kami harus tampil habis-habisan,” kata Di Giannantonio.

Format akhir pekan sudah padat

MotoGP memperkenalkan sprint race pada 2023 sebagai elemen kompetitif tambahan. Sejak saat itu, setiap akhir pekan grand prix memiliki satu balapan berjarak setengah dari balapan utama. Perubahan tersebut juga membuat pembalap hanya memiliki satu sesi latihan pada Jumat pagi sebelum harus langsung mengejar catatan waktu pada sesi Practice untuk mengamankan posisi di Q2.

Di Giannantonio menilai jadwal yang berjalan saat ini sudah cukup menuntut. Ia lebih memilih tambahan sesi latihan yang berlangsung dengan tekanan lebih rendah daripada kualifikasi baru untuk sprint.

“Pada Jumat, Anda sudah tampil 200 persen, kemudian Sabtu sibuk dan Minggu juga demikian,” ucapnya. Ia menambahkan, perubahan jadwal tidak akan mengurangi tuntutan karena pembalap tetap harus memacu motor sepanjang akhir pekan.

“Anda bisa menentukan jadwal untuk kami, tetapi pada akhirnya itu tidak mengubah apa pun. Anda tetap harus tampil maksimal,” katanya.

Di Giannantonio mengakui motor musim depan diperkirakan sedikit lebih lambat. Namun, ia menilai tingkat performa motor yang ada saat ini tetap membuat kecelakaan berisiko tinggi. “Dengan motor-motor yang berada di level setinggi ini, ketika Anda jatuh, Anda jatuh dengan keras. Karena itu, akan lebih baik jika kami memiliki beberapa sesi latihan yang lebih santai,” ujarnya.

Ia juga menyoroti terbatasnya pengaruh pembalap dalam keputusan mengenai masa depan MotoGP. Berbeda dari Formula 1 yang memiliki Grand Prix Drivers’ Association, MotoGP belum memiliki organisasi pembalap serupa.

“Pendapat kami saat ini sedikit kurang penting bagi olahraga ini. Kami sedang berusaha mengangkat olahraga ini, jadi mari percaya kepada mereka dan mencobanya,” kata Di Giannantonio.

Source link